Menurut pelayan yang enggan disebutkan namanya, anak tersebut merupakan anak dari pemilik Rumah Makan Ujung Pandang. Saat itu, kata dia, sang bapak, yang merupakan pemilik toko, sedang lelah menghadapi kenakalan anaknya.
"Bapaknya marah-marah karena lagi capek. Tapi (anak) enggak dipukul, cuman ditoyor. Anaknya memang terlalu aktif dan susah diatur," ujar pelayan tersebut.
M Lukas, yang menulis di akun Path dan Facebook miliknya tentang dugaan kekerasan dari seorang ayah terhadap anaknya, akhirnya melaporkan peristiwa yang terjadi di RM Ujung Pandang, ITC Mangga Dua, ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres.
Kanit PPA Iptu Putu Diah Kurniawan membenarkan bahwa pihak Lukas sudah melapor ke Unit PPA Polres Metro Jakut. Namun, pihak kepolisian belum bisa menindaklanjuti laporan tersebut karena belum ada bukti yang kuat dan nyata.
"Iya sudah datang, tapi hanya mengobrol saja, belum bisa membuat laporan polisi karena belum disertai bukti seperti visum," ujar Putu.
Pihak Unit PPA juga menyarankan agar Lukas menghubungi dinas sosial dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jakarta Utara untuk memberikan masukan mengenai langkah-langkah apa saja yang harus diambil.
Karena anak tersebut masih di bawah perlindungan orangtuanya, terlebih lagi orang yang diduga pelaku adalah orangtua korban, anak tersebut harus mendapat pendampingan dari pihak saudara atau dinas sosial.
"Tadi malam saya juga sudah bertemu dengan Ibu Rika (Rika Sutiyo), perwakilan dari LPA," tambah Lukas.
Lukas menuturkan, dia melihat kekerasan tersebut dari mobil, dan sang anak, Ferry, mendapatkan perlakuan kasar dari bapaknya yang merupakan pemilik RM Ujung Pandang, seperti yang ia tuliskan di dalam akun Path-nya.
Sementara itu, Rika Sutiyo membenarkan bahwa Lukas bersama Rh, petugas cleaning service yang menjadi saksi karena menolong Ferry mencari kaleng kosong di dalam tumpukan sampah, dan Pahala selaku perwakilan dari Pasukan Jarik, sudah menemui dirinya tadi malam.
0 comments:
Post a Comment